Curhat Jaket Oversize yang Bikin Gaya Urban di Kota Lebih Hidup

Aku masih ingat jelas hari pertama aku sadar kalau jaket oversize bukan sekadar tren. Itu akhir November 2017, hujan gerimis di trotoar Blok M, aroma kopi jalanan, dan aku baru pulang dari sesi pemotretan jam 6 sore. Jaket kulit hitam yang kubeli beberapa minggu sebelumnya terasa seperti perisai — hangat, sedikit dramatis, dan nyaman memenuhi ruang gerak saat motor berhenti di lampu merah. Di sela kebingungan antara menghindari genangan dan merapikan lensa kamera, ada momen kecil: seorang anak membalikkan kepalanya dan tersenyum. Itu yang membuatku berpikir: ada sesuatu tentang oversize yang membawa energi urban berbeda.

Awal Ketertarikan: Belanja, Eksperimen, dan Keputusan

Pembelian pertama itu bukan rencana besar. Aku sedang browsing untuk opsi outer baru dan nemu satu model yang menarik di atsclothing. Foto produk terlihat sederhana — bahu jatuh, potongan panjang sampai pinggul. Deskripsi bilang "relaxed fit", tapi foto di situ membuatku langsung membayangkan berjalan di bawah lampu jalanan, jaket mengayun tipis saat aku melangkah. Aku pesan, berharap itu tidak terlalu "kebesaran". Sampai paket datang — dan benar, lebih besar dari ekspektasi. Ada sedikit panik, ada rasa penasaran. Kupakai juga karena penasaran. Dan itu jadi awal eksperimen yang panjang.

Ujian di Jalanan: Tantangan yang Tidak Terduga

Ternyata oversize punya aturan tak tertulis. Pertama kali pakai saat musim hujan di Jakarta, lengan jaket basah sampai siku karena menabrak payung orang lain. Suatu malam, di halte TransJakarta, lengan jaket sempat tersangkut di pegangan sampai aku hampir terjatuh — malu, terengah, dan kemudian tertawa sendiri. Ada juga momen di kantin kantor saat aku menumpahkan kopi karena saku yang terlalu dalam membuat botol tergesek. Kejadian kecil itu bikin aku sadar: estetika butuh fungsi. Oversize itu dramatis, tapi harus diatur agar tidak merepotkan.

Solusinya muncul lewat trial-and-error. Aku mulai memantau proporsi — memilih jaket yang bahunya hanya turun sedikit, bukan sampai siku. Belajar menggulung lengan dengan teknik tertentu sehingga terlihat intentional, bukan asal sembunyi. Menambahkan strap atau karet di ujung lengan untuk menahan agar tidak menyapu lantai. Semuanya sederhana, tapi membuat perbedaan besar di jalanan yang sibuk.

Merawat dan Menghidupkan Jaket Oversize di Kota

Setelah beberapa musim, aku punya trik yang konsisten dan sering kuterapkan ketika memberi saran pada klien atau teman. Pertama: balance is key. Kalau atasannya oversize, bawahannya cenderung ramping — skinny jeans, celana chino taper, atau rok midi yang memotong di pergelangan. Kedua: tekstur dan aksesoris memperkuat karakter. Aku suka menambahkan beanie rajut, scarf tipis, dan dompet crossbody yang melintang. Ketiga: detail praktis—kancing yang bisa dikancing separuh, sabuk untuk membuat siluet, atau bahkan menambahkan safety pin estetis di bagian kerah.

Satu contoh nyata: di pagi hari yang dingin di SCBD, aku pakai jaket oversize wol, dipadu celana jeans slim, sepatu boots chunky, dan tas selempang kecil. Ketika lampu neon menyala, jaket itu mengambil pantulan warna, memberikan kedalaman pada foto jalanan yang kuambil. Ada kontras antara volume jaket dan kehalusan celana; hasilnya bukan hanya nyaman, tapi fotogenik. Itu penting bagi aku yang sering bekerja sambil jalan — pakaian harus fungsional juga terlihat menarik di kamera.

Pelajaran dan Refleksi: Lebih dari Sekadar Tren

Menggunakan oversize selama bertahun-tahun mengajarkanku sesuatu yang lebih besar daripada sekadar tips styling. Oversize tentang keberanian berekspresi; tentang bagaimana kita memilih ruang di tengah keramaian kota. Aku belajar untuk menerima ketidaksempurnaan — lengan yang terlalu panjang, lipatan yang tidak sempurna, atau komentar orang di jalan. Semua itu bagian dari bahasa visual yang aku bangun.

Satu pelajaran praktis juga penting: investasikan pada potongan berkualitas. Jaket yang bagus tetap terlihat rapi meski oversize, dan lebih mudah dimodifikasi. Selain itu, oversize mendukung prinsip keberlanjutan: lebih sedikit pakaian yang dipakai berulang-ulang dengan cara berbeda. Aku menemukan kepuasan tersendiri ketika jaket yang sama menemani sesi foto, meeting, dan hangout malam — tanda bahwa pilihan sederhana bisa sangat multifungsi.

Di akhir hari, jaket oversize itu bukan lagi sekadar item pakaian. Ia menjadi alat bercerita — tentang malam hujan di Blok M, tentang tawa di halte bus, tentang eksperimen kecil yang berbuah kebebasan berekspresi. Kalau kamu masih ragu memakainya, coba langkah kecil: pilih satu potong yang nyaman, uji di hari santai, dan perhatikan reaksi dirimu. Kadang, sebuah potong pakaian yang terlihat "berlebihan" justru memberikan ruang paling leluasa untuk menjadi diri sendiri di tengah kebisingan kota.