Mengapa Automasi Membuat Hidupku Lebih Mudah Tapi Juga Agak Menakutkan

Di tahun 2020, saya terpaksa beradaptasi dengan banyak perubahan. Pandemi COVID-19 memaksa saya untuk bekerja dari rumah, dan itu membawa satu hal yang tak terduga: kebutuhan untuk mengotomatiskan berbagai aspek kehidupan saya. Saya ingat jelas, pada suatu pagi di bulan Maret, laptop baru yang saya beli dua hari sebelum lockdown tiba-tiba menjadi portal ke dunia yang sepenuhnya berbeda. Namun di balik kemudahan yang ditawarkan automasi, ada rasa cemas yang menyelinap. Bagaimana teknologi ini akan membentuk hidupku?

Kemudahan dalam Rutinitas Harian

Saya mulai dengan hal-hal kecil. Saya mengatur agar email masuk saya otomatis terkelompokkan berdasarkan prioritas. Ini membuat kotak masuk saya tidak lagi berantakan oleh berbagai pesan yang tidak penting. Ada satu momen di mana saya menerima email dari klien penting ketika sedang sibuk memasak makan siang untuk anak-anak. Sebelumnya, kemungkinan besar saya akan melewatkannya; tetapi karena adanya filter otomatis tersebut, saya dapat segera merespons tanpa kehilangan kendali atas aktivitas lain.

Dengan cara ini, hidupku terasa lebih terorganisir dan terkendali. Setiap malam sebelum tidur, alih-alih mencatat tugas harian di kertas catatan—yang selalu hilang atau tercecer—saya cukup menggunakan aplikasi manajemen tugas seperti Todoist untuk mendokumentasikan rencana besoknya dengan cepat.

Konflik Emosional Dengan Ketergantungan

Tetapi seiring waktu berlalu, muncul perasaan aneh yang menghantui: ketergantungan pada teknologi ini benar-benar membuatku merasa tidak nyaman. Di satu sisi, semua ini memang mempermudah segalanya; namun di sisi lain, aku merasakan kekhawatiran bahwa aku sedang menyerahkan kontrol atas banyak aspek kehidupanku kepada mesin.

Satu sore ketika menonton acara TV favorit bersama keluarga, tiba-tiba ponsel cerdasku berbunyi dan mengingatkan bahwa sudah saatnya mengambil pil vitamin harian. Tiba-tiba saja pertanyaan meluncur dalam pikiran: “Apa jadinya jika aku lupa memprogram ulang pengingat?” Suara kecil dalam diriku berbisik bahwa mungkin terlalu banyak automasi bisa membuat kita menjadi ‘manusia biasa’ tanpa kemampuan untuk mengingat sesuatu secara manual.

Pembelajaran dan Proses Adaptasi

Dari situ muncul keputusan: bagaimana menemukan keseimbangan antara manfaat automasi dan menjaga koneksi manusiawi dalam hidupku? Saya mulai menetapkan batasan; beberapa tugas tetap harus dilakukan secara manual demi menjaga interaksi langsung dengan kehidupan sehari-hari dan orang-orang sekitar.

Salah satunya adalah dengan melakukan lebih banyak komunikasi langsung daripada melalui pesan teks atau email saat berada di rumah—ketika bermain dengan anak-anak setelah kerja atau bahkan saat berbicara santai dengan pasangan tentang hari kami masing-masing. Kebiasaan kecil semacam ini memberi nuansa hangat dalam rutinitas kami meski dunia terus bergerak maju ke arah digitalisasi.

Menyongsong Masa Depan Dengan Keseimbangan

Akhirnya ada satu kesadaran baru: bukan hanya teknologinya yang perlu dikuasai tapi juga bagaimana kita menyikapinya secara bijaksana. Dengan melakukan sedikit eksperimen di setiap aspek kehidupan—seperti memilih aplikasi seperti atsclothing untuk membantu pengelolaan waktu belanja online—aku belajar bahwa automasi bukan musuh dari interaksi manusiawi kita; ia hanyalah alat ketika digunakan secara tepat.

Kehidupan modern pasti akan terus berubah seiring inovasi teknologi bertumbuh pesat; tetapi sebagai individu kita memiliki pilihan bagaimana menjalin hubungan dengannya agar tetap relevan tanpa kehilangan nilai-nilai kemanusiaan kita sendiri.